Sejak zaman dulu, dulu banget deh pokoknya, sebelum ramalan zodiak di Planet Remaja dengan latar musik “Another Day in Paradise”-nya Phill Collins muncul, hingga akun Ramalan Golongan Darah punya jutaan followers di [email protected], yang namanya ramalan atau peruntungan nasib ga pernah bolos untuk menghiasi kehidupan umat manusia.

Entah termasuk ke dalam golongan yang percaya pada ramalan ataupun tidak, kita pasti sepakat bahwa kita pernah bilang, “lha, ini kok bener banget, deh!” saat kita sedang iseng baca sebuah ramalan pun prediksi kepribadian diri kita di sebuah majalah, entah itu horoskop, primbon, golongan darah, dll.

Mungkin kita pun sebenarnya sadar bahwa tulisan tersebut gak ada penjelasan secara ilmiahnya, tapi kita pun tak kuasa untuk bergumam, “klo ini cuma kebetulan, kenapa bisa sesuai banget sama gua?”

Tak perlu khawatir jika pertanyaan tersebut muncul di kepala kamu, karena jawaban dari pertanyaan tersebut serta alasan di balik banyaknya orang-orang yang mempercayai praktik-praktik non-ilmiah seperti astrologi, ramalan, grafologi, pembacaan aura, serta beberapa jenis tes kepribadian lainnya bisa dijelaskan di dalam Efek Barnum.

Efek Barnum

Efek Barnum, atau biasa disebut juga dengan Efek Forer, sendiri merupakan sebuah fenomena psikologis ketika seseorang menganggap akurat deskripsi mengenai diri mereka yang seolah dibuat khusus untuk mereka, padahal deskripsi tersebut sebenarnya sangatlah umum sehingga dapat berlaku bagi orang banyak.

Hal ini dibuktikan oleh Forer pada tahun 1984 lewat sebuah eksperimen yang dilakukan terhadap para muridnya di universitas.

Pada tahun 1984, Forer memberitahukan para muridnya bahwa mereka akan mendapatkan analisis kepribadian berdasarkan hasil tes dan mereka harus mengatakan seberapa akurat hal tersebut dalam rentang 0-5, Forer kemudian memberikan tulisan di atas kepada seluruh muridnya dan mendapati bahwa rata-rata tingkat keakuratan dari analisis tersebut adalah 4.26.

Confirmation Bias

“Tapi tapi tapi, klo memang semua itu hanya bohongan, kenapa banyak dari temen-temen gua yang zodiaknya Libra itu songong, terus yang Sagittarius juga cablak bet pokoknya nyebelin deh, sesuai ramalan, kenapa hayo!?”

Kecocokan-kecocokan tersebut bisa dijelaskan oleh sebuah istilah bernama “Confirmation Bias”, di mana sebagai manusia, kita cenderung untuk mencari informasi yang mendukung keyakinan kita.

 

Self-fulfilling Propechy

“Terus terus terussss gua pernah kok baca ramalan dan beberapa waktu kemudian emang terjadi ke diri gua!”

Nah, klo itu bisa dijelaskan oleh istilah “Self-fulfilling Propechy”, di mana sesuatu yang kita perkirakan bisa benar-benar terjadi karena itulah yang kita harapkan.

Jadi gak perlu heran kenapa setiap kamu baca ramalan tentang kamu di sebuah majalah, klo yang jelek bawaannya pengen langsung ngelupain dan bilang “Ah, gua ga percaya ramalan!” tapi giliran hasilnya bagus langsung bergumam, “hmm… leh uga! Kita lihat aja nanti!”

 

Jadi, harus gimana?

Seperti kata William Shakespeare, “The fault is not in our stars, but in ourselves”, ada baiknya untuk tidak menjadikan ramalan sebagai pedoman atau acuan hidup kamu, entah itu ramalan bintang, golongan darah, serta tes-tes kepribadian di internet yang tidak jelas tolak ukurnya (banyak banget nih di Youtube).

Karena sejatinya, hidup kamu, ya, kamu sendiri yang menentukan. Klo semisal butuh tes kepribadian, kamu bisa lho dateng ke profesional (misal, psikolog). Tapi klo cuma sekadar jadi hiburan semata, ya, gak apa-apa, itulah juga kenapa masih banyak majalah yang menaruh “Ramalan Bintang” di dalam dalam salah satu rubrik mereka. Lumayan kan, kali aja besok-besok pas lagi ngeliat ramalan bintang bareng gebetan, ternyata disebutin klo bintang kalian jodoh.

Leave a Reply